Minggu, 21 Juni 2009

Energi Alternatif: Jangan Dibuang Limbah Cair Tahu!

entry-content'expr:id='"post-" + data:post.id'>

MENIPISNYA cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil, mendorong tiap negara untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih aman dan bermanfaat.

Apalagi seperti kita ketahui saat ini harga minyak dunia tidak stabil, sementara konsumsi BBM dalam negeri mencapai 1,3 juta/barel dibanding produksi dalam negeri cuma 1 juta/barel, membuat pemerintah menutup kekurangan dengan cara impor.

Data ESDM (2006), cadangan minyak Indonesia hanya tersisa sekitar 9 miliar barel. Apabila terus dikonsumsi tanpa ditemukannya cadangan minyak baru, diperkirakan cadangan minyak itu akan habis dalam dua dekade mendatang.


Siska dan Noer Komari, mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA Unlam Banjarmasin dalam penelitiannya menyebutkan, banyak sumber energi alternatif kalau cadangan minyak bumi habis. Salah satunya adalah biogas.

Biogas merupakan sebuah proses produksi gas bio dari material organik dengan bantuan bakteri, seperti sampah biomassa, kotoran manusia, kotoran hewan. Gas ini dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobik digestion.

Proses pembuatan tahu menghasilkan limbah padat dan cair. Limbah padat tahu dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah cair dibuang. Air limbah tahu itu mengandung metana (CH4) lebih dari 50 persen, sehingga sangat memungkinkan untuk bahan sumber energi biogas.

Prinsip kerja biogas limbah tahu mirip dengan biogas kotoran ternak. Limbah tahu bisa diolah menjadi biogas dengan teknologi fermentasi dan filterisasi. Prosesnya, tiga lubang cor berdiameter 4,5 meter dan dalam 6 meter lengkap dengan tutup menjadi bunker. Dari bunker itu dipasang pipa 4,5 meter dan dalam 6 meter lengkap dengan tutupnya. Dari bunker itu dipasang pipa PVC sebagai saluran gas yang dihasilkan. Di dalam bunker juga dimasukkan botol plastik bekas air mineral yang dilubangi dan dimasuki kapas.

Di dalam bunker berukuran 30 m3 tersebut limbah cair bisa menghasilkan gas metana. Gas itu kemudian disalurkan melalui pipa ke rumah. Pipa yang sudah dialiri gas tersebut tinggal dicolokkan ke perapian, bisa kompor atau lampu petromak.

Dengan mengonversi air limbah tahu menjadi biogas, pemilik pabrik tahu tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga meningkatkan pendapatannya dengan mengurangi konsumsi bahan bakar pada proses pembuatan tahu.

Di Kalsel banyak pabrik tahu, namun limbahnya belum dimanfaatkan dengan baik. Perlu ada sosialisasi ke masyarakat tentang pemanfaatan limbah cair tahu untuk dijadikan biogas sebagai bahan bakar alternatif, sehingga dapat menghemat pemakaian BBM yang makin menipis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


General